Jumat, 28 Mei 2021

GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN (HIPERAKTFITAS)

 

Untuk dapat disebut memiliki gangguan GPPH, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.

Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 9 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.

Tanda dan gejala pada anak yang lebih besar adalah tindakan yang hanya terfokus pada satu hal saja dan cenderung bertindak ceroboh, mudah bingung, lupa pelajaran sekolah dan tugas di rumah, kesulitan mengerjakan tugas di sekolah maupun di rumah, kesulitan dalam menyimak,  kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah, sering keceplosan bicara, tidak sabaran, gaduh dan bicara berbelit-belit, gelisah dan bertindak berlebihan, terburu-buru, banyak omong dan suka membuat keributan, dan suka memotong pembicaraan dan ikut campur pembicaraan orang lain

Gejala-gejala diatas biasanya timbul sebelum umur 9 tahun, dialami pada 2 atau lebih suasana yang berbeda (di sekolah, di rumah atau di klinik dll), disertai adanya hambatan yang secara signifikan dalam kehidupan sosial, prestasi akademik dan sering salah dalam menempatkan sesuatu, serta dapat pula timbul bersamaan dengan terjadinya kelainan perkembangan, skizofrenia atau kelainan psikotik lainnya.

Tampilan lainnya pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif, penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata.   Mereka biasanya bertindak ‘nekat’ dan impulsif, kurang sopan, dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain.   Sering kurang memperhatikan, tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi, tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya, mudah marah, sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya.

Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self injury dan sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.
Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut  dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.
Dengan bertambahnya umur pada seorang anak akan tumbuh rasa tanggung jawab dan kita harus memberikan dorongan yang cukup untuk mereka agar mau belajar mengontrol diri dan mengendalikan aktifitasnya serta kemampuan untuk memperhatikan segala sesuatu yang harus dikuasai, dengan menyuruh mereka untuk membuat daftar tugas dan perencanaan kegiatan yang akan dilakukan sangat membantu dalam upaya mendisiplinkan diri, termasuk didalamnya kegiatan yang cukup menguras tenaga (olah raga dll) agar dalam dirinya tidak tertimbun kelebihan tenaga yang dapat mengacaukan seluruh kegiatan yang harus dilakukan. Nasehat untuk orangtua, sebaiknya orang tua selalu mendampingi dan mengarahkan kegiatan yang seharusnya dilakukan si-anak dengan melakukan modifikasi bentuk kegiatan yang menarik minat, sehingga lambat laun dapat mengubah perilaku anak

Jumat, 13 September 2019

RETARDASI MENTAL PADA PERKEMBANGAN ANAK


RETARDASI MENTAL PADA PERKEMBANGAN ANAK


        I.            KONDISI UMUM

Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan jiwa yan terhenti atau tidak lengkap, yang ditandai dengan terhambatnya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. Seperti kemampuan koginitif, bahasa verbal dan kemampuan interaksi sosial. Hambatan pada kemampaun beradaptasi hampir selalu ada, namun bila anak berada dalam sarana pendukung yang lengkap, mungkin gangguan beradaptasi ini tidak muncul.
Tingkat intelegensia bukan merupakan satu-satunya karakteristik penilian kasus retardasi mental. Bisa saja anak mengalami gangguan yang berat pada satu bidang. misalkan bahasa atau kemampuan siap diri. Kecerdasan harus berdasarkan pada semua informasi yang tersedia, seperti hasil tes psikometrik, perilaku adaptif. Agar mendapatkan diagnosis yang pasti, harus adanya penurunan tingkat  kecerdasan, yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan beradaptasi, terhadap tuntutan lingkungan sosial sehari-hari atau hal yang berkaitan dengan kemampuan umum (global ability), dan hanya BUKAN terhadap suatu area tertentu secara spesifik.

      II.            PENGGOLONGAN KONDISI RETARDASI MENTAL.
a.      RETARDASI MENTAL  RINGAN
Bila menggunakan test IQ yang baku, berkisar antar 50-69. Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat,meskipun sebagian besar sudah mampu mencapai kemampuan berbicara untuk keperluan sehari-hari. Sebagian besar juga sudah mampu untuk merawat diri sendiri dan ketramilan praktis dalam kegiatan rumah tangga, walapun tingkat perkemabangannya lebih lambat dibandingan kondisi yang typical. Kesulitan utama biasanya muncul pada, pekerjaan sekolah yang bersifat akademik, seperti membaca dan menulis.           

b.      RETARDASI MENTAL SEDANG
Tingkat intelegensia biasanya berada pada rentang 35-49. Pada umumnya, dapat berada dalam kemampuan visuo-spasial (kemampuan koordinasi mata dan tangan-motorik halus), yang lebih baik dibandingan dengan kemampuan bahasa. Pada sebagian kasus sangat canggung ketika mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana, hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka saja, autisme infantil dan gangguan perlembangan pervasif yang lainnya, muncul pada sebagain kasus.

c.      RETARDASI MENTAL BERAT
Tingkat intelegensia berkisar 20 -34, pada umumnya cirinya hampir sama dengan retardasi mental sedang dalam hal gambaran klinis. Namun pada kondisi retardasi mental berat, menderita gangguan motorik yang mencolok dan deficit lain yang bermakna secara kilinis, adanya kerusakan pada susunan syaraf pusat.

d.      RETARDASI MENTAL SANGAT BERAT
Tingkat intelegnsia berkisar dibawah 20. Pemahaman atas penggunaan bahasa sangat terbatas. Maksimal anak hanya memahami perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana. Kemampuankoordinasi mata-tangan (motorik halus), seperti memilih dan mencocokan benda, mungkin dapat dicapai, dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat dan mampu melakukan tugas praktis rumah tangga. Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat sehingga mempengaruhi, mobilitas.

Kamis, 29 November 2018

FUNGSI GURU PENDAMPING ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH REGULER



Anak berkebutuhan khusus apakah autisme, ADHD, ADD atau PDD-NOS, bila sudah menjalani tata-laksana, secara holistik termasuk intervensi medis, dan sudah menunjukkan peningkatan dari sisi bahasa/komunikasi dan perilaku, bisa dicoba untuk masuk ke sekolah reguler (bukan SLB). Keberadaan anak di sekolah reguler, bila usia sudah mencukupi akan sangat membantu peningkatan kemampuan bahasa, kepatuhan dan kemampuan akademik, karena anak akan berhadapan dengan instruksi yang berbeda bila dibandingkan yang didapatkan di tempat terapi, lingkungan yang berbeda, orang yang berbeda dll. Selain itu, anak juga akan berada pada suatu tempat yang terdiri dari banyak orang, dimana suara dan gerakan yang berlebihan, bisa membuat konsentrasi anak beralih dan mudah muncul emosi negatif. Penolakan untuk masuk kelas atau sekolah baru, sangat mungkin terjadi, namun kita tidak boleh menyerah dan tetap “mengkondisikan” anak, namun bila hal ini dibiarkan (perilaku menolak), maka tujuan kita untuk meningkatkan kemampuan dan kepatuhan anak, justru akan membuat anak trauma dan tidak mau masuk sekolah.

Keberadaan anak di sekolah umum, tentunya membutuhkan kerja-sama yang baik dengan pihak sekolah sebagai penyelenggara proses pemberian materi akademik. Adanya anak berkebutuhan khusus di sekolah hendaknya jangan menjadikan pihak sekolah merasa terganggu, temannya merasa tidak nyaman atau timbul suasana yang tidak “nyaman” dengan orang tua muruid yang lainnya. Sebagai orang tua ABK kita juga hendaknya tidak menuntut terlalu “jauh” dan “tinggi” ke pihak sekolah agar ‘sangat mengerti” keberadaan ABK. Sebaiknya kita memberikan gambaran ke pihak sekolah, bahwa keberadaan anak kita untuk melatih sosialisai, meningkatkan kepatuhan dan bukan hanya mengejar kemampuan akademik. Kemampuan akademik bisa diadikan sebagai sasaran, bila kepatuhan dan bahasa sudah terbentuk.

Kerja sama dengan guru kelas, sebagai pembimbing sehari-hari, sangat disarankan, meskipun kita tidak bisa menuntut mereka berlaku lebih kepada ABK. Justru kalau mereka memberikan perhatian yang berlebihan, hal ini menyimpang dari misi kita menjadikan anak lebih mandiri. Guru kelas hendaknya berperilaku seperti biasa kepada murid yang lain, seperti meminta anak untuk maju ke depan mengerjakan soal, meminta anak untuk memberikan atau mengambil benda. Tentunya dalam melakukan suatu aktifitas, banyak yang masih harus dibantu, paling tidak agar tidak terlalu lama dan tidak menganggu aktifitas kelas.
Untuk itu diperlukan pembimbing khusus (bukan guru kelas), yang mendampingi anak dalam merespon aktifitas dan mengerjakan materi. Guru pendamping inilah yang mengawasi, membantu dan melatih anak. Guru pembimbing bukan sebagai PENGASUH, yang menyediakan keperluan atau melayani anak, tapi sebagai jembatan antara instruksi guru dan respon dari anak. Fungsi jembatan hanya “menghubungkan”, yang melakukan anak sendiri meskipun dengan dibantu. Fungsi jembatan yang lain adalah antara anak dengan teman sebaya, dimana aspek spontanitas, bermain dan mengikuti aturan, banyak dterapkan di sini. Sedangkan untuk akademik, pada tahap awal masuk tidak menjadi sasaran, yang menjadi sasaran adalah aspek kemampuan siap diri, yang meliputi,  merespon bila namanya dipanggil, duduk dengan durasi waktu yang lama, serta tidak mengeluarkan stimulasi (suara dan gerakan), yang akan menganggu suasana kelas.

Guru Pendamping Khusus (GPK), sebaiknya seoarang terapist yang sudah memiliki bekal dalam menangani anak berkebutuhan khusus di tempat terapi atau di rumah. Sehingga bisa dan harus mampu bersikap tegas bila anak tidak patuh dan menunjukkan sikap menentang, namun juga harus bisa membuat anak merasa nyaman, saat berada di damping GPK. Parameter “keberhasilan” GPK, bukan nilai anak yang tinggi dalam pelajaran, melainkan kepatuhan dan penolakan anak yang semakin turun atau kecil, terhadap semua aktifitas yang ada di sekolah. Sebaiknya anak tidak hanya mengikuti kegiatan intrakurikuler, namun juga kegiatan ekstra yang seperti kesenian atau olah-raga.

Selasa, 20 Maret 2018

PANDANGAN ORANG TUA TERHADAP TATA-LAKSANA PERILAKU


PANDANGAN ORANG TUA TERHADAP TATA-LAKSANA PERILAKU

 

 

Setelah anak mendapatkan diagnosis yang valid, baik dari psikiater anak ataupun pediatric, konsultan tumbuh kembang, selanjutnya adalah menentukan tata laksana atau terapi yang akan diberikan kepada anaknya. Salah satu/jenis tata laksana yang ada sekarang ini disebut dengan tata laksana perilaku, yang menekankan pada variabel atau penyebab terjadinya suatu kejadian. Misalkan anak tiba-tiba tantrum (mengamuk) tanpa sebab dan tiba-tiba, kita sebagai terapist atau orang tua, sebaiknya sudah bisa memperkirakan, apa yang menjadi”penyebab” anak berperilaku demikian. Hal inilah yang disebut dengan antecedents (prakejadian). Kejadian tantrum atau marah disebut sebagai suatu (behaviour-perilaku), yang akan membawa konsekuensi. Bila behaviour anak marah atau emosi negatif, maka konsekuensinya tentu akan berbeda bila anak duduk dengan tenang.

Tata laksana perilaku adalah suatu model atau cara mempertahankan perilku yang baik (misalkan anak duduk tenang), dengan memberikan konsekuensi yang menyenangkan seperti diberikan hadiah, pujian dll. namun bila mncul emosi negatif dari anak, seperti marah atau menangis, maka yang muncul dari kita adalah konsekuensi negatif.

Ketika menjalankan tata-laksana perilaku, pada tahap awal pasti akan muncul pertentangan dari orang tua (ayah dan ibu), yang belum sependapat atau sepaham dalam melaksanakannya. Karena tata-laksana ini berbeda dengan pola pengasuhan atau pembelajaran pada umumnya. Saat berhadapan dengan anak dalam memberikan instruksi, hendaknya harus “hemat kata”, “hemat gerakan”, kata yang diucapkan harus jelas dan tegas (bukan membentak). Bila anak dapat melakasanakan suatu instruksi, maka harus segera diberikan imbalan atau hadiah, bisa berupa makanan, pujian dll.

Beberapa hal yang mungkin menjadi penghambat proses tata-laksana adalah

1.      Ketidaksepahaman antara ayah dan ibu, terhadap kontinuitas program. Karena pada tahap awal pembelajaran, hampir dipastikan muncul, penolakan atau emosi negatif. seperti menangis, marah, menjerit, tidak mau duduk, keluar dari kursi (tidak mau duduk). untuk anak yang masih berusaia kurang lebih 2-3 tahun, “dikhawatirkan”, akan muncul “trauma”. Meskipun biasanya setelah beberapa kali pertemuan, biasanya anak cukup tenang dan mampu mengikuti instruksi dengan cukup baik.

2.      Untuk konsistensi sikap atau perilaku, bila anak sedang marah atau menangis, biasanya ada anggota keluarga yang lain yang berusaha menenangkan anak dengan memberikan apa yang disukainya. Sehingga anak akan berusaha mencari orang yang akan memberikan sesuatu yang disukainya, sebagai “pelarian”.  

3.      Memang belum ada penelitian yang valid, namun orang tua yang masih tinggal dengan mertua atau selain keluarga inti, maka perbaikan anak perilaku, agak lambat. Kesulitan untuk memberikan aturan tunggal, biasanya membuat anak justru menjadi labil emsoinya.

4.      Masalah pembiayaan, menjadi kendala yang muncul bagi anak yang perlu mendapatkan tata-laksana secara holistik (menyeluruh). Karena ideal lamanya terapi bagi terapi perilaku adalah 8 jam sehari.

5.      Bagi anak berkebutuhan khusus yang sudah verbal, biasanya pola bahasa dan bicara anak, tampak kaku dan belum memiliki intonasi. Sehingga untuk menyanyikan sebuah lagu belum terdengar dinamikanya. Dalam berbicara biasanya masih bersifat satu arah, dalam menjawab masih cenderung monoton  dan belum mau bertanya atau berkata secara spontan.

 

Beberapa kendala diatas, memang sangat mungkin muncul, karena anak biasanya kurang mau untuk melaksanakan instruksi yang diberikan secara mandiri. Bila diberikan bantuan biasanya, anak masih sering mengharapkannya. Sehingga bila diminta menyelesaikan, akan timbul emosi negatif. Disinilah mulai diberlakukan terapi perilaku, dimana anak harus menuruti instruksi yang diberikan, namun bila sudah mampu melaksnakan, akan diberikan rewards atau hadiah. Bila menolak akan mendapatkan rewards negatif.

Setelah anak mampu mengerjakan dan patuh dengan satu orang, bisa dilanjutkan dengan membiasakan anak menerima perintah dari orang lain (selain terapist). hal ini bertujuan agar anak tidak hanya patuh dan mau melaksakan instruksi dari orang tertentu saja.

Selasa, 02 Mei 2017

GANGGUAN BICARA DAN GANGGUAN MOTORIK PADA ANAK



GANGGUAN BICARA DAN GANGGUAN MOTORIK PADA ANAK

Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.
Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia pra sekolah. Hampir sebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara dan gangguan berbahasa. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3-16 tahun.
Pada umur 5 tahun, 19% dari anak-anak diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa (6,4% kelemahan berbicara, 4,6% kelemahan bicara danbahasa, dan 6% kelemahan bahasa).
Pada pemeriksaan hubungan antara perkembangan kontrol motorik dan bahasa dan gangguannya, terdapat perbedaan antara besarnya jumlah yang diketahui tentang motor kontrol anggota tubuh dan sedikit yang diketahui tentang motor kontrol oral. Sebagai contoh, telah lama diketahui bahwa fase pertama dari perkembangan bahasa terjadi sejajar dengan fase pertam perkembangan gestural, dan anak-anak yang fase gesturalnya lebih awal dari rata-rata biasanya juga mengucapkan kata-kata pertamanya lebih awal dari rata-rata(Bates et al., 1979). Data terakhir memperlihatkan bahwa anak-anak yang terlambat memulai baik komunikasi gestural dan percakapan bahasa secara spontan, lebih mungkin untuk mengalami keterlambatan daripada anak-anak yang memulai komunikasi gestural pada umur yang sesuai tetapi juga mengalami keterlambatan bicara (Thal et al., 1997).
Ada juga suatu hubungan yang kuat antara kesulitan kontrol motorik anggota tubuh dan kelemahan bahasa(Hill, 2001), yang mana terlihat genetik ikut berperan (Bishop, 2002). Ketidakseimbangan dalam penelitian ini masih ada, meskipun kenyataannya mayoritas pengguna bahasa yang bicara. Sekarang terjadi perubahan dalam perkembangan ketrampilan motorik oral.

BERBAGAI GANGGUAN MOTORIK. VESTIBULARIS  DAN SENSORIS YANG SERING MENYERTAI ANAK DENGAN KETERLAMBATAN BICARA
  1. GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. Terlambat melompat dan terlambat mengayuh sepeda.
  2. GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  3. GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  4. GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. MUDAH JATUH DARI TEMPAT TIDUR. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
Anak dengan jenis kelamin laki-laki  lebih rentan terhadap keterlambatan perkembangan bahasa dibanding anak perempuan. Secara teori hormon estrogen sebagai hormon sexual pada anak perempuan sangat berperan selama perkembangan otak, dimana hormon estrogen ini mempercepat proses myelinisasi serabut syaraf otak.
Data Gurian and Stevens (2005) dalam Vesna Nikolic (2008) menyatakan bahwa 80% masalah kedisiplinan pada anak dilakukan oleh anak laki-laki, 70% anak yang terdiagnosis gangguan belajar adalah anak laki-laki dan 80% anak laki-laki dari tahun ke tahun, berada separuh di belakang anak perempuan untuk ketrampilan matematika dan membacanya.
Guardian dan Stevens menjelaskan bahwa terdapat beberapa perbedaan antara otak anak laki-laki dengan anak perempuan :
  1. Pada anak laki-laki lebih banyak dopamin di aliran darahnya, sehingga meningkatkan risiko perilaku impulsif, dampaknya anak laki-laki kurang mampu belajar dengan duduk tenang, mereka memerlukan aktivitas fisik untuk mengembangkan otak mereka, dan lebih cendrung membuat keputusan yang impulsif.
  2. Amigdala (pusat marah dan agresi) pada anak laki-laki secara signifikan memiliki volume lebih tinggi, akibatnya anak laki-laki cendrung bereaksi dari pada memberi respon, sehingga dikatakan lebih berisiko memiliki masalah-masalah kedisiplinan.
  3. Pada anak laki-laki juga ter-setting untuk recharge diantara tugas-tugasnya, anak perempuan lebih mampu mempertahankan konsentrasi, meskipun dalam keadaan istirahat otak mereka masih tetap aktif. Corpus callosum (serabut penghubung antara hemispaer kiri dan kanan) juga memiliki ukuran yang berbeda dibanding anak perempuan, sehingga anak perempuan dapat menjalani berbagai tugas-tugasnya dengan lebih baik, sementara anak laki-laki lebih fokus pada suatu aktivitas pada saat itu saja.
  4. Anak perempuan memiliki neuronal connections yang lebih kuat di lobus temporalnya sehingga mereka dapat berperan sebagai pendengar yang lebih baik sementara anak laki-laki lebih sedikit menangkap stimuli yang berkenaan dengan suara di sekitar mereka, khususnya saat di sampaikan melalui kata-kata.

Selasa, 10 Januari 2017

DISLEKSIA PADA ANAK



DYSLEKSIA
Apa itu disleksia?
Disleksia adalah semacam disabilitas yang lazim dialami anak-anak. Anak-anak dengan disleksia umumnya mengalami kesulitan saat mereka belajar membaca, menulis atau mengeja kata-kata.
Meskipun anak-anak penderita disleksia memiliki tingkat intelejensi di atas rata-rata, mereka sulit memahami pelajaran yang disampaikan secara visual maupun melalui suara.
Otak anak pengidap disleksia tidak mampu menerjemahkan gambar atau suara yang dilihat oleh mata atau yang didengar oleh telinga. Mata penderita disleksia bisa melihat kata-kata yang tertulis dalam buku, namun otak tidak mampu menerjemahkan apa yang mereka lihat.
Disleksia bukanlah bagian dari penyakit mental. Oleh karena itu kepikunan, keterbelakangan mental dan kerusakan otak tidak dapat digolongkan sebagai gejala disleksia, Demikian juga gangguan penglihatan dan pendengaran.

Apa penyebabnya?

Ada dua jenis disleksia, yaitu disleksia primer dan disleksia berkembang. Disleksia primer terjadi akibat tidak berfungsinya cerebrum (bagian otak yang mengatur aktifitas berpikir dan bergerak) yang terjadi akibat faktor genetik dan keturunan.
Sedangkan disleksia berkembang dialami ketika anak masih berada dalam kandungan. Pengidap disleksia berkembang dapat membaca namun tidak lancar dan mengalami kesulitan dalam mengeja kata-kata.
Kabar baiknya, kemampuan membaca mereka akan membaik ketika tumbuh dewasa. Pengidap disleksia berkembang mungkin tidak akan pernah menjadi seorang pembaca atau pengeja yang baik, namun otak mereka dapat melakukannya meski tidak lancar.
Baik pengidap disleksia primer maupun berkembang dapat menangkap gambar maupun suara, tapi dengan kecepatan merespon yang lebih lambat daripada anak normal.
Gangguan disleksia ini bersifat genetik (keturunan), karena ditemukan pada 23% – 65% anak dari orangtua yang disleksia, juga pada 40% dari saudara kandung. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih banyak mengalami disleksia daripada perempuan dengan perbandingan 3:2. Secara internasional, diperkirakan 3% – 10% anak di dunia mengalami disleksia. Pada negara-negara berbahasa Inggris, persentase perkiraan ini meningkat hingga 17,5%. Apa sebab? Karena bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat inkonsisten. Hubungan antara kata dan suara dalam bahasa Inggris lebih sulit diperkirakan dibandingkan dengan bahasa Indonesia, misalnya. Huruf dan kata yang dituliskan dalam bahasa Inggris berbeda pelafalannya, sehingga semakin menyulitkan para pengidap disleksia. Gangguan ini pun tidak terbatas pada bahasa yang bersifat alfabetis, tapi juga terjadi pada individu yang bahasa sehari-harinya bersifat logografis seperti bahasa Cina. Karakter dalam bahasa Cina memiliki elemen fonologis yang dapat menimbulkan masalah pada membaca dan menulis.
Di dunia akademik, anak-anak yang mengalami disleksia kerap dianggap malas belajar, kurang konsentrasi, sehingga label “anak bodoh”, “anak malas”, “tidak fokus”, kerap dilekatkan pada mereka. Ini jelas berpengaruh pada kondisi psikologisnya, yang ujung-ujungnya dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri anak. Anak menjadi minder, tak mau sekolah, atau menutup diri dari pergaulan karena sering kali diejek atau di-bully karena kekurangannya yang justru tidak bisa ia pahami. Bila guru dan orangtua tidak aware dengan keadaan ini dan tidak segera membawanya ke psikolog atau ahli-ahli lain yang berkompeten dengan masalah ini (seperti, dokter anak), dikhawatirkan anak selamanya akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan bukan tidak mungkin dapat menimbulkan gangguan psikologis lain seperti, kecemasan sampai depresi. Tentu hal ini tidak diinginkan setiap orangtua, bukan?
Tanda-tandanya
Seorang anak yang kemungkinan mengidap disfungsi otak ini akan berulang kali terbalik menuliskan angka atau huruf. Karena anak normal pun biasa melakukan kesalahan semacam ini, maka gejala ini mungkin akan dianggap sepele.
Akhirnya, orang tua baru merasa was was ketika anak tetap melakukan kesalahan yang sama pada saat usianya telah lebih dari delapan tahun.
Sedangkan gejala lainnya adalah :
  1. Tidak mampu mengikuti urutan atau pola
  2. Tak mampu mengingat apa yang pernah didengar dan dilihat – termasuk hal-hal yang disukainya, seperti film atau cerita.
  3. Mengerjakan PR dengan tidak rapi
  4. Enggan mengerjakan tugas sekolah
  5. Mengalami kesulitan saat menyalin dari buku atau papan tulis
6.    Disleksia adalah satu dari 3 gangguan belajar yang spesifik (specific learning disorder) yang termasuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder V (DSM V). Ada beberapa kriteria menurut DSM V tentang 3 gangguan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, diskalkulia) ini, yang muncul minimal selama 6 bulan.
7.    Ketidakakuratan atau lambat membaca (membaca satu kata dengan lambat dan salah, sering kali menebak kata, sulit menyuarakan kata).
8.    Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca (mampu membaca namun tidak memahami kesinambungan antar kata dan arti).
9.    Kesulitan dalam mengeja (menambah, mengurangi huruf, mengganti huruf vokal dan konsonan)

Kamis, 27 Oktober 2016

AUTISME PADA ANAK



AUTISME PADA ANAK
Autisme (Autism Spectrum Disorder, ASD) adalah gangguan perkembangan yang kompleks, berawal di masa kanak-kanak. Gangguan ini mempengaruhi kemampuan untuk berinteraksi sosial, komunikasi dan juga mempengaruhi perilaku.
Penyembuahan yang efektif terhadap autisme sampai saat ini belum dapat ditemukan. Namun begitu, terdapat berbagai terapi dan langkah penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu penyandang autisme ini. Dan tak kalah penting adalah memperhatikan gejala dan ciri autisme sedini mungkin.
Kategori pertama, gangguan komunikasi dan interaksi sosial. Kategori ini meliputi gangguan pada pemahaman dan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Dan juga termasuk dalam kategori ini adalah pengusaan bahasa yang lamban. Ciri dan gejala tersebut adalah:
  • Perkembangan bicara yang lamban atau sama tidak bisa bicara;
  • Belum bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya dengan bahasa verbal;
  • Tidak merespon ketika namanya dipanggil, meski pendengaran normal;
  • Kurang peka terhadap perasaan orang lain;
  • Cenderung menghindari kontak mata.
  • Jarang memperlihatkan ekspresi wajah tertentu saat berkomunikasi.
  • Tidak dapat memulai atau meneruskan obrolan.
  • Berbicara hanya saat meminta sesuatu.
  • Nada bicara yang datar.
  • Sering mengulang kata atau frasa tertentu, namun tidak dapat menggunakan kata atau frasa tersebut dengan tepat saat berbicara.
  • Cenderung tidak memahami petunjuk atau pertanyaan sederhana.
  • Tidak memahami interaksi sosial secara umum, misalnya sekedar menyapa.
Kategori kedua adalah perilaku, minat dan pola pikir yang terbatas dan bersifat mengulang. Termasuk dalam kategori kedua ini adalah:
  • Memiliki kelainan dalam pola gerakan, misalnya selalu berjinjit.
  • Lebih suka rutinitas yang sudah familier dan marah jika ada perubahan.
  • Selalu bergerak dan tidak bisa diam.
  • Melakukan gerakan tertentu terus menerus (repetitif) seperti mengayunkan tubuh ke depan dan belakang atau menjentikkan jari.
  • Melakukan permainan yang tetap dan tidak imajinatif.
  • Hanya menyukai makanan tertentu, seperti berdasarkan warna atau tekstur tertentu.
Anak dengan spektrum autisme memiliki perilaku minat yang terbatas dan menyukai gerakan berulang, seperti melihat roda mainan mobil-mobilan berputar selama berjam-jam lamanya. Gejala ketiga adalah respons tidak wajar terhadap pengalaman sensorik. Mereka umumnya terlalu sensitif, seperti sulit tersentuh kulitnya oleh label pakaian. Bisa juga, anak tidak sensitif sama sekali, walaupun terjatuh hingga berdarah.

Kemampuan berbahasa, berbicara, dan komunikasi anak autisme juga umumnya terganggu. Telat bicara juga menjadi salah satu indikasi anak memiliki gangguan autisme.

Indikasi sederhana yang bisa diamati, anak tidak bisa menunjuk atau mengoceh pada usia 12 bulan. Lalu, anak tidak bisa melihat ke benda yang ditunjuk orang lain dari jauh. Kemampuan bicara anak tiba-tiba menghilang, anak tidak merespons saat dipanggil, anak tidak bisa mengucapkan satu kata pun pada usia 16 bulan, hilangnya kemampuan sosial, dan anak tidak bisa bermain pura-pura. Jika ada satu saja indikasi itu pada anak, orang tua harus segera ke dokter.

Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku ke arah cara-cara yang lebih adaptif. Berlandaskan teori belajar, modifikasi tingkah laku dan terapi tingkah laku adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berurusan dengan pengubahan tingkah laku. Pada dasarrnya, terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, pengapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.